Ciri Muslimah Sejati

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar ikhwatul iman? Semoga kalian dalam keadaan sehat wal’afiat & selalu dalam lindungan Allah swt.
Sudah lumayan lama rasanya saya tidak menulis di pages ini. Dan Alhamdulillah hari ini Allah menggerakkan hati saya untuk menulis kembali di sini.
Silakan ya saudara & saudariku fillah, jika ada yg ingin copas ataupun share tulisan ini (^_^)

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

**********^^**********^^**********^^**********^^**********^^**********^^**********^^**********

Di siang hari yang terik, seorang gadis kecil tengah asyik memandangi 2 orang perempuan yang tepat berada di sebelah depan kanan dan kirinya.

Pemandangan kedua perempuan itu sangatlah kontras. Perempuan yang berdiri di depan kanannya adalah perempuan yang menutup rapat auratnya

dengan berhijab sedangkan perempuan yang tepat berada di sebelah kirinya adalah perempuan yang tanpa rasa malu mengumbar auratnya, entah dengan niat apa dia melakukannya.

Gadis kecil itu menarik tangan ayahnya dan bertanya “Ayah, kenapa kedua kakak perempuan itu pakaiannya sangat berbeda? Kalau aku sudah besar nanti aku harus pakai yang mana yah? Yang tertutup rapat itu atau yang terbuka?!”

Dengan tersenyum sang ayah menjawab rasa pertanyaan buah hatinya “Anakku..Jika engkau sudah besar nanti, kau harus mengikuti kakak yang berpakaian rapat itu!”

“Tapi kan panas ayah, apalagi di siang hari yang terik seperti ini! Memangnya..kenapa kalau sudah besar harus berpakaian seperti itu yah?” tanya gadis itu dengan cepat karena rasa penasarannya.

Sang ayah membelai rambut sang anak sambil berkata “Anakku, engkau ini adalah seorang muslimah. Seorang muslimah adalah seorang perempuan yang meyakini bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. Menutup aurat seperti yang dilakukan kakak itu adalah kewajiban seorang muslimah. Maka saat usiamu baligh nanti tutuplah auratmu nak karena Allah telah memerintahkannya dalam QS Al Ahzab : 59 yang artinya,

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab [33] : 59).

Sang anak itu tersenyum mendengar penjelasan ayahnya dan dengan antusiasnya dia bertanya kembali “Tapi bagaimana ciri-ciri seorang muslimah itu Ayah?”

“Ciri seorang muslimah yang sejati itu tidaklah dilihat dari paras kecantikan wajahnya, wajah & fisik yang cantik hanyalah satu peranan yang teramat kecil. Tetapi seorang muslimah yang sejati adalah seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan ketulusan hati yang tersembunyi. Itulah yang terbaik karena Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk kalian. Allah hanya melihat kepada hati dan perbuatan kalian.

Sang ayah menyambung perkataanya “Muslimah sejati juga tidak dapat dilihat dari bentuk tubuhnya yang indah dan mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang indah dan mempesona itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak manakah kebaikan yang diberikannya, tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari perkataan apa yang ia keluarkan dari mulutnya. Muslimah sejati bukan juga dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujjah dengan kebenaran.

“Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan (mengairahkan) orang yang ada perasaan dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik.” (Surah Al-Ahzab : 32)

Sang ayah kemudian diam sejenak sambil melihat kepada wajah manis puteri kecilnya itu.
“Kemudian apa lagi ayah?” tanya putri kecilnya yang masih terus ingin tahu.

“Ketahuilah wahai puteriku… Muslimah sejati bukanlah dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian bermerek tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di tepi jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang lain menjadi tergoda. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul. Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginyaDan ingatlah anakku..Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa ridho dan kehambaan kepada TUHAN-nya. Dan ia sentiasa bersyukur dengan segala karunia yang diberikan.”

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (tidak berzina atau mendekati zina).” (Surah An-Nuur : 31)

Setelah itu sang anak kembali bertanya, “Siapakah yang memiliki kriteria seperti itu ayah? Bolehkah saya menjadi sepertinya? Mampukah dan layakkah saya ayah?”

“Tentu saja boleh sayang, bahkan semua wanita boleh dan mampu jika mereka memang mau berusaha! Untuk menjadi seorang muslimah yang sejati, tentu saja engkau dapat mempelajarinya dari istri-istri Rasulullah, putri Rasulullah dan sahababiyah bukan dari perempuan-perempuan yang mempertontonkan dan menjajakan auratnya.”

 

-Wallahu a’lam bishawab-

Kembali kepada Allah

Sore menjelang maghrib aku duduk di sebuah warung makan
di depan warung makan itu ada sebuah kafe yang sangat ramai dikunjungi
muda mudi. Saking penuhnya, muda mudi itu sampai mengantri ke jalanan 
di luar kafe. 
Karena penasaran, aku bertanya kepada penjaga warung
“Pak, ada apa sich di kafe itu kok ramai  banget?”

“Oh itu neng, nanti ada artis yang mau manggung di sana
katanya sich artis dari luar negeri! Makanya yang antri sampe banyak begitu! Coba aja
neng ke sana lihat!” Jawab Bapak penjaga warung.

“Jam berapa acaranya mulai Pak?” tanya ku lagi.

“Jam 6 neng tapi tiketnya mahal 300.000!!!” 

Astagfirullahaladzim jam 6, itukan waktu maghrib! Ya Allah apa semua muda-mudi itu tidak shalat maghrib dulu
dan Masya Allah harga tiketnya 300.000??? Apa tidak terlalu mahal???

Kemudian adzan maghrib berkumandang, tapi antrian muda-mudi itu tidak juga surut.
Seakan-akan mereka tidak terpengaruh dengan panggilan Allah yang menciptakan mereka.
Aku langsung berlari menuju masjid terdekat
dan rupanya masjid itu berada tidak jauh di samping kafe tadi.

Astagfirullahaladzim..jama’ah shalat Maghribnya kenapa hanya ada 1 shaf jama’ah pria dan jama’ah wanitanya
hanya ada aku dan 2 ibu-ibu yang sudah separuh baya. Dengan hati yang sedih & malu aku menghadap-Nya.
Selesai mendirikan ba’diyah Maghrib aku tak kuasa menahan tangis.

Astagfirullahaladzim..Ya Allah ampunilah kami, 
maafkan kami yang lalai saat Kau panggil, 
dan bahkan..banyak dari kami yang tidak hadir atau bahkan mengacuhkan panggilan-Mu padahal Engkau lah pemilik kami 
dan maafkanlah kami Ya Rabb, yang jarang atau bahkan tidak pernah berkunjung dan memakmurkan rumah-Mu.

Ya karim aku malu..
aku malu kepada kedua perempuan tua ini, meskipun usia mereka sudah lanjut tapi
mereka lebih dulu hadir daripada aku, padahal aku yang lebih kuat dari mereka, karena aku masih muda!
Tapi kenyataannya aku lah yang kalah..terlebih lagi muda-mudi yang tadi aku lihat mengantri panjang di kafe sana,
mereka tak bergerak dari tempat antrian itu, bahkan mereka tak bergeming meskipun suara seruan-Mu terlah dikumandangkan.
padahal disana mereka harus mengeluarkan uang yang besar dan mengorbankan kewajiban shalat mereka.
Ya Allah..Mereka tidak sadar kalau nanti shalatlah yang akan pertama kali dihisab dan
Mereka tidak sadar kalau mereka hanya mampir sebentar di dunia ini!!!

Ya Allah sesungguhnya aku termasuk dalam golongan mereka karena aku juga mengidolakan 
makhluk2 ciptaan-Mu yang lemah seperti mereka bahkan terkadang idola kami adalah seorang yang kafir..
Astagfirullahaladzim..ampunilah kami Ya Rabb..ampuni kami!!

Ya Rabb, berikanlah petunjuk untuk kami, Ketuklah hati kami saat mendengar panggilan dari-Mu
agar kami segera datang untuk bersimpuh dan bersujud kepada-Mu dan bukakanlah pintu hati kami
untuk menerima Islam yang sesungguhnya, bukan hanya Islam yang terlihat di identitas kami Ya Rabb.

Ya Allah Ya Lathif..jadikanlah hati kami,
hati yang terukir nama-Mu dan nama kekasih-Mu Muhammad saw
Jadikanlah hati kami, hati yang mencintai seseorang karena-Mu Ya Rabbil Izzati,
sehingga kami tidak lagi terpana dan tergila-gila saat melihat makhluk dhaif-Mu yang tenar di dunia ini
karena belum tentu penduduk langit mengenalnya.

Allahumma anta Rabbii laailaaha illa anta, khalaqtanii wa anaa ‘abduka
wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, A ‘udzubika min syarrimaa sona’tu
Abuu ulaka bini’matika alayya, wa abuu’u bijambii, faghfirlii fainnahu laa
yaghfirudzunuuba illa anta

Aku jatuh cinta pada-Mu

Sahabat, apakah kamu pernah merasakan hal yang saat ini sedang aku rasakan? 
"Jatuh cinta" wuahhh berjuta indahnya..berjuta rasanya ^^ 

Aku senang sekali bisa mempunyai perasaan ini disaat aku masih diberi kesempatan oleh-Nya 
aku jatuh cinta pada-Nya, aku jatuh cinta pada pemilik ku.. 

Rasa cinta yang satu ini rasanya begitu dahsyat, karena rasa cinta ini bukanlah rasa cinta fana yang biasa kita rasakan 
rasa cinta ini adalah rasa cinta yang kekal yang tidak bertepuk sebelah tangan dan tidak terhapus dimakan zaman. 

Sahabat, apa kamu tahu kenapa aku jatuh cinta pada-Nya? 
mungkin kalau aku sebutkan alasannya itu bisa memakan seluruh usiaku, karena seluruh usiaku bergantung pada-Nya 
Jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintai-Nya karena selama ini aku selalu bergantung pada-Nya, kalian juga 
sama kan sepertiku? 

Tiap nafasku, tiap denyut nadiku, tiap aliran darahku, dan semua yang aku punya, semua adalah milik-Nya. 
Jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintai-Nya karena yang aku punya diberikan oleh-Nya? 

Dia yang begitu baik tidak hanya kepadaku tapi juga 
kepada kalian, kebaikan-Nya tidak pandang bulu sahabat 
Dia mencurahkan nikmat dan karunia-Nya bukan hanya kepada 
hamba-Nya yang taat, kepada hamba-Nya yang ingkar dan tidak pernah 
mengingat-Nya pun Allah swt sangat baik, jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintai-Nya? 

Sahabat apakah kamu tahu kalau Allah sangat memuliakan kita? Hanya kitalah makhluk-Nya yang diberikan akal dan hanya 
kitalah yang dipercaya oleh-Nya. 
Allah telah memberikan kepercayaan dan amanatnya kepada kita sahabat 
dengan menjadikan kita khalifah di muka bumi ini. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintai-Nya? 


Dan sahabat..apakah kau sudah mencintainya???

________

Cinta


Siang hari ketika aku selesai mengerjakan shalat dzuhur di salah satu masjid di bilangan sudirman, Jakarta
 
Sayup-sayup aku mendengar suara rintihan seorang akhwat, aku yang sebenarnya sudah selesai berdo’a
 
dan ingin beranjak pergi dari sajadah, tiba2 tertahan saat mendengar suaranya.


Aku urungkan niatku untuk pergi dan duduk kembali di sajadahku.
Aku tahu yang kulakukan ini tidak baik dan juga tidak sopan, tapi entah kenapa
 
ada dorongan dalam hatiku yang menyuruh untuk mendengarkan do’a akhwat itu.


Aku pasang telingaku untuk menyimak rintihannya dengan sesama.


“Ya Allah, ijinkan aku mencurahkan isi hatiku padamu” gadis itu mengadahkan kedua tanggannya ke atas
 
“Ya Allah, hanyalah kepada-Mu aku berlindung dan meminta.
 
Aku tahu Engkau yang Maha mendengar, Maha melihat lagi Maha mengetahui, Ya Allah..Engkau pasti tahu
 
apa yang sedang terjadi pada diri ku saat ini, Engkau pasti tahu apa yang sedang berkecamuk di hatiku!


“Ya Allah perasaanku saat ini sedang bergejolak, aku jatuh cinta Ya Allah” mata gadis itu berkaca-kaca.
 
“Aku jatuh cinta pada seorang pria dan aku sangat menderita karenanya. Aku menderita karena pria itu
 
telah menyita waktu dan pikiranku. Ya Rabb, sungguh..aku tidak mau disibukkan dengan perasaan yang seperti ini!”


“Maaf Ya Allah karena aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Maaf..karena aku tidak bisa menolak perasaan ini
 
dan maaf karena aku telah dikalahkan oleh hawa nafsuku..Maafkan aku yang dhaif ini Ya Rabb.” air mata akhwat itu mulai berjatuhan.


“Ya Rabbil Izzati, aku mohon kepada-Mu bersihkanlah hatiku dari cinta yang fana ini..
 
terangkanlah ia dengan cahaya-Mu Ya Rabb, jangan Kau sibukkan aku dengan urusan ini sampai menyita
 
waktuku untuk-Mu..Ya Allah Ya Karim, lindungilah aku dari hawa nafsuku, dan untuk kesucian serta kebaikanku
maka aku mohon kepada-Mu Ya Allah berikanlah aku kekasih yang halal,
seorang pria sholeh yang bisa menjadi imam untuk ku dan anak-anak ku
nantinya dan bisa menerimaku apa adanya. amin Allahumma amin.”


Tanpa sadar, air mata menetes di pipiku..aku merasa tersindir dengan doanya.
 
Kondisi kami sama, sama-sama sedang jatuh cinta tapi untuknya cinta yang dia rasakan,
 
membuatnya menderita dan dia ingin membersihkan hatinya dari perasaan itu, namun aku..
 
aku malah menikmatinya, aku menikmati waktuku yang telah terbuang sia-sia hanya utk
memikirkan seseorang yang belum tentu menjadi milikku, aku memikirkan seseorang yang masih haram
untuk ku dan aku bahagia??? 


Astagfirullahaladzim, ampunilah hamba-Mu ini Ya Allah,
Maafkan aku yang dzolim ini, maafkan aku yang melupakan-Mu saat aku memikirkannya
 
aku mohon Ya Rabb, terimalah aku..kembalikanlah aku ke jalan-Mu yaitu
 
jalan orang-orang yang Engkau ridhoi..amin.

Cinta-Mu Ya Rabb

                                        ***
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Sesungguhnya apabila 
Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril, seraya berfirman : “Sesungguhnya
Aku mencintai fulan, maka cintailah dia”. 
Beliau saw bersabda : “Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril memanggil penghuni langit, 
lalu berkata : “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit 
mencintainya. 
Beliau saw bersabda : “Kemudian di bumi ia diterima” dan beliau saw bersabda : “Apabila Allah 
membenci hamba, maka Dia memanggil Jibril seraya berfirman : “Sesungguhnya Aku membenci fulan, 
maka bencilah ia”. Lalu ia dibenci oleh Jibril. Kemudian Jibril memanggil penghuni langit : “Sesungguhnya
Allah membenci fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya”. 
Beliau saw bersabda : “Kemudian ia dibumi dibenci oleh orang-orang”. (Hadist ditakhrij oleh Imam Muslim).

                                        ***

Ikhwani wa Akhwati, masuk ke dalam golongan manakah kita? Sungguh beruntungnya kita apabila termasuk
ke dalam golongan fulan yang dicintai Allah, sampai malaikat Jibril dan penduduk langit pun mencintai kita.
Namun..bagaimana jika kita termasuk ke dalam golongan fulan yang dibenci oleh Allah??? 
Na’udzubillahi min dzalik, semoga hal itu tidak terjadi kepada kita.

Allah Ya Rahman Ya Rohim..Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada Tuhan yang kami sembah 
selain Engkau Ya Rabb, maka cintailah kami Ya Allah..kami tahu Engkau Yang Maha Kaya, Maha Perkasa 
lagi Maha Kuasa, setitik pun Engkau tidak membutuhkan kami tapi untuk kami..Engkau adalah segalanya Ya Karim.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu Ya Rabb”

Duhai wanita,

Assalammualaikum warahmah wabarakah my dear ukhti, 

Salam penghormatan kuucapkan kepadamu wahai kaum wanita. 

Wahai Kaum Wanita, Tahukah kamu betapa Indahnya Islam Memandangmu??? 
Tahukah kamu betapa sayangnya Allah kepadamu?? Dan tahukah kamu betapa Rasulullah sangat menyanjungmu? 

Wanita, engkau adalah makhluk terindah ciptaan Allah swt. 
Rasulullah saw pun mengakui keindahanmu itu. 
Beliau bersabda "Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri (wanita) yang sholeha". 
Tapi wanita, mengapa engkau tidak menjaga keindahanmu ini? 

Mengapa engkau lebih suka mempertontonkan keindahan 
yang Allah karuniakan untukmu? 
Sekadar nasihat dari al-fakir untukmu, simpan 
dan jagalah keindahanmu ini wahai wanita. 
Rahasiakanlah ia dibalik hijabmu, dan bukalah ia 
ketika nanti engkau bersama dengan kekasih halalmu. 

Wallahu a'lam bishawab

Besarnya Cinta Nabi saw kepada umatnya

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” 

Firman Allah swt dalam Surat Al-Anbiya ayat 107 di atas mengambarkan pribadi Rasulullah saw,
yang merupakan rahmat dari Allah swt untuk alam semesta ini. Rasulullah saw, adalah pribadi yang agung.
Makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan-Nya. Shohibul Maulid Simthuddurar Al Habib Ali Al Habsyi
dalam kitab maulidnya menggambarkan Rasulullah saw dalam syairnya di bawah ini : 

"Sungguh sempurna sifat-sifat keluhurannya
Andaikan ia menghadiahkan sinar bagi bulan purnama
pasti tak 'kan ia tertutup dari gerhana" 

Alhamdulillah sahabat, kita sungguh beruntung karena merupakan bagian dari umat Nabi akhir zaman ini, Nabi yang mulia, Cahaya pilihan Muhammad saw yang begitu mencintai umatnya. 
Berikut ini saya akan menceritakan salah satu cerita tentang rasa sayangnya Nabi saw kepada umatnya yang saya ambil dari Majalah Al-Kisah No. 08/201. Dari mau'izhah hasanah Al Habib Ali Zainal Abidin  Al-Kaff 
pada peringatan maulid di pesantren Riyadhul Jannah, beliau bercerita tentang Rasulullah saw mencari umatnya yang masih terselip di neraka. 

Pada saat  yang dijanjikan itu, semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amal ibadah mereka masing2.
Mereka juga telah merasakan ganjaran yang begitu lama atas perbuatan yg telah mereka kerjakan selama di dunia. 

Allah swt bertanya kepada malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Maha Tahu, "Apakah ada umat Muhammad saw yang masih tertinggal di dalam neraka?" 

Maka malaikat Jibril pun pergi ke neraka jahanam. Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril. 
Para penghuni jahanam pun bertanya-tanya, siapakah gerangan yang datang, mengapa jahanam tiba-tiba terang benderang? 

Maka malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah swt utk mencari apakah ada umat Muhammad saw yang masih terselib di neraka jahanam. 

Tiba2 sekelompok org berteriak, "sampaikan salam kami kpd Rasulullah saw, beritahukan keadaan kami di tmp ini kpd beliau."
Jibril pun keluar dari neraka jahanam & pergi ke surga utk memberitahukan hal itu kpd Rasulullah. 

Rasulullah sgt sedih sat mendengar bhwa msh ada umatnya yg trtinggal di dlm neraka dlm wkt yg sudah bgt lama. Beliau saw tdk ridha ada umatnya yg masih tertinggal di neraka walaupun dosanya sepenuh bumi. 
Rasulullah saw pun bergegas hendak pergi ke neraka tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas malaikat Israfil, Tidak ada seorang pun yang boleh melintasi garis itu kalau tidak seijin Allah swt. 

Rasulullah saw pun mengadu kpd Allah swt dan akhirnya beliau diijinkan utk melintasi batas tsb. Tapi sesudah itu Allah swt mengingatkan Rasulullah bhw umat itu telah  meremehkan beliau. 
"Ya Allah, izinkan aku memberi syafa'at kepada mereka itu walau mereka hanya punya iman sebesar dzarrah." 

Sesampainya Rasulullah di neraka jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu. Penduduk jahanam pun berucap "Apa yang terjadi, mengapa api jahanam ini tiba2 padam? 
Siapakah yg datang lagi?" 

Rasulullah saw menjawab, "Aku Muhammad saw yg datang, siapa diantara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar dzarrah, aku datang untuk mengeluarkannya." 

Demikianlah kecintaan Rasulullah saw kpd umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah swt. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah saw kpd pribadi yg begitu agung itu? 

Di saat beliau saw sakaratul maut, beliau masih mengkhawatirkan umatnya dengan menyebut "ummati..ummati" berulang-ulang kali.
Sahabat..sudah banyak riwayat yang menerangkan tentang kecintaan Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Namun kita sebagai umatnya, apakah kita sudah mencintai beliau? Apakah kita sudah mengidolakannya? 

Dari Anas r.a. berkata, "Nabi saw. bersabda, 'Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.'" (HR Bukhari) 

Allahumma shalli 'alaa Sayyidina Muhammad, Allahumma shalli 'alaihi wa sallim
"Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepadanya" 

Wallahu a'lam bishawab 

KESAKSIAN HALIMAH AS SA’DIYAH

Salah satu kutipan dari buku guruku

KESAKSIAN HALIMAH AS SA’DIYAH…

Sayidah Halimah bercerita bahwa suatu saat ia keluar dari kampong halamannya bersama suami dan putranya yang masih kecil bersama beberapa wanita dari suku bani Sa’ad dalam rangka mencari balita yang hendak di susui oleh mereka. Dan sudah menjadi tradisi orang-orang arab saat itu adalah orang-orang yang tinggal di perotaan menitipkan anak-anak mereka untuk disusui oleh wanita desa agar lebih cerdas dengan lingkungan pedesaan yang masih asli bahasa dan lingkungannya dengan upah tertentu.

“Saat itu masa paceklik dan kekeringan di kampong halaman kami. Mereka pergi dengan menggunakan keledai betina dan seekor unta yang sama sekali tidak ada susunya hingga di malam kami sulit tidur tangisan anak kami selalu terdengar karena menahan lapar. Bahkan asi yang berada di dada sayapun tak dapat menghilangkan rasa lapar tersebut namun kami tetap berharap pertolongan dan kelapangan yang datang. Hingga saat aku berjalan terasa lamban sekali dan membuat repot rombongan dari kurus dan lemahnya kami saat itu. Akhirnya kami tiba di mekah dan kamipun mulai mencari balita yang dapat kami bawa pulang ke kampong kami. Tak seorang wanitapun dari rombongan kecuali semua pernah ditawarkan untuk menyusui Rasulullah namun mereka semua menolak beliau saat mengetahui beliau adalah seorang anak yatim. Hal itu tentunya disebabkan karena setiap orang mengharap imbalan dari orang tua balita tersebut. Mereka berkata “Yatim? Nanti apa yang akan diberikan ibu dan kakeknya…” hingga akhirnya setiap wanita dari kami telah mendapatkan balita yang akan disusui dan dibawa pulang kecuali aku sendiri yang belum mendapat balita. Saat untuk kembali pulangpun tiba dan rombongan telah bergegas untuk kembali ke kampong halaman maka akupun berkata kepada suamiku “Demi Allah aku tak ingin kembali pulang bersama teman-temanku sedangkan aku tidak membawa balita. Demi Allah aku akan pergi mengambil anak yatim tadi dan membawanya pulang” suaminya Abdullah bin Al Harits berkata “Baiklah kalau begitu, semoga Allah menjadikannya sumber keberkahan bagi kita”

Maka akupun pergi untuk mengambilnya, padahal pada awalnya aku memilih dia karena tak ada lagi anak yang akan ku bawa pulang. Saat aku ambil dan aku bawa ke tempat persinggahanku dan aku gendong ia tiba-tiba ia langsung menghisap asi dariku dan dengan sangat suburnya asi itu pun keluar dariku sampai ia merasa kenyang dan ajaibnya saudaranyapun (putra kandung beliau) akhirnya dapat meminum asi itu hingga kenyang pula dan mereka berduapun tidur lelap dan kamipun akhirnya dapat tidur setelah sebelumnya sulit untuk tidur. Dalam sebuah riwayat yang lain dinyatakan bahwa saat Rasul ditawarkan untuk minum dari asi yang satu lagi beliau tidak meminumnya seolah mengisyaratkan bahwa itu adalah bagian saudara sesusuannya. Kemudian suamiku mendatangi unta betina kami dan ternyata ia sekarang dapat mengeluarkan susu hingga akhirnya aku dan dia meminumnya hingga kenyang dan kamipun tidur di malam yang sangat berkesan itu.

Di pagi harinya suamiku berkata “Sadarlah wahai Halimah, sungguh yang kau ambil ini adalah bibit unggul yang diberkahi” kamipun bergegas pulang dan aku membawa Rasul dikeledai bersamaku dan demi Allah perjalanan itu terasa sangat cepat menempuh jarak yang tak bisa ditempuh oleh keledai mereka sampai-sampai kawan-kawanku mengatakan kepadaku “Wahai putri Abi Dzuaib (Halimah) ada apa denganmu, perlambatlah sedikit tunggulah kami, apakah itu keledai yang kemarin kau bawa? Kujawab “Ya demi Allah ini dia” mereka berkata lagi “Demi Allah keledai itu mempunyai kelebihan”

Kamipun tiba diperkampungan kami bani Sa’ad dan setahuku tak ada bumi yang segersang tempat ini saat itu. Domba-dombakupun pergi dan kembali dengan kenyang dan penuh susunya hingga kami dapat memras susunya padahal di saat yang sama tak ada seorangpun yang dapat memeras kambingnya karena sangat sulit makanan saat itu. Bahkan orang-orang yang memiliki kambing berkata kepada para pengembalanya “Gembalakanlah kambing dengan benar seperti kembalaan halimah” namun tetap saja saat domba kami kembali dengan kenyang, domba mereka tetap lapar dan tidak dapat mengeluarkan setetes susupun”

Kami terus merasakan dan menyadari gelimang keberkahan dan kebaikan itu hingga berlalu 2 tahun iapun tumbuh sangat cepat dan pesat tidak seperti anak-anak umumnya hingga tubuhnya Nampak montok dan gagah dan akupun harus mengembalikannya kepada ibunya padahal kami masih sangat menginginkan bersamanya karena keberkahan yang kami rasakan saat bersamanya. Saat kami hendak menyerahkan ibunya berkata “Bolehkah kalian tahan beberapa lama lagi sampai dia lebih besar, karena aku khawatir penyakit yang mengidap di mekah” maka kamipun membawanya kembali.

Beberapa bulan kemudian saat ia bermain di pekarangan belakang rumah kami bersama saudaranya (putra kandung Halimah) tiba-tiba putraku tersebut mendatangiku sambil ketakutan dan berkata kepadaku dan ayahnya “Saudaraku orang quraisy itu (Rasulullah) ia didatangi 2 orang laki-laki berbaju putih lalu membaringkannya dan membelah perutnya dan menggerak-gerakkannya” aku dan suamikupun keluar untuk mencarinya dan saat kami lihat dia sudah dalam keadaan berdiri dan sangat pucat. Lalu aku dan suamiku memeluknya sambil berkata “Ada apa denganmu wahai anakku?” ia menjawab “Dua orang laki-laki mendatangiku lalu membaringkanku membelah perutku dan mengambil sesuatu dari perutku, aku tidak tahu apa itu?”

Setelah masuk ke dalam rumah suamiku berkata “Wahai Halimah, aku khawatir terjadi sesuatu dengan anak ini, sebaiknya kau kembalikan dia sebelum terjadi hal yang tak diinginkan” maka kami membawanya pulang dan saat kami mengembalikan ibunya berkata “Wahai wanita yang menyusui balita, Kenapa sekarang kau mengembalikannya padaku? Bukankah kau sangat menginginkannya agar selalu bersamamu? Akupun menjawab “Telah kujalankan tugasku dan tiba saatnya aku kembalikan. Akupun khawatir terjadi sesuatu padanya karena itu aku mengembalikannya padamu sekarang” ia berkata lagi “Kamu tidak seperti biasanya, jujurlah padaku ada apa?” akupun menceritakannya. Stelah mendengar kisah itu ia berkata lagi “Apakah kau mengkhawatirkannya dari syetan?” kujawab “ya!” ia berkata lagi “Demi Allah tidak, syetan takkan dapat menguasainya dan putraku ini memiliki kelebihan, maukah kau aku ceritakan tentang dia?” kujawab “Ya!” iapun berkata “Saat aku mengandungnya aku melihat pancaran cahaya yang menerangi hingga nampak istana-istana damaskus di negeri Syam, dan saat aku mengandungnya terasa sangat ringan tak terasa berat sedikitpun dan saat ia lahir ia langsung meletakkan kedua tangannya di bumi sambil mengankat kepalanya ke arah langit. Baiklah kembalikan ia padaku dan pergilah dengan tenang”

“Beberapa sahabat Rasulullah bertanya kepada beliau”Yaa Rasulallah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu!.” beliau bersabda ”Baiklah, aku adalah buah do’a ayahku (datukku) Ibrohim, dan aku kabar gembira yang di bawa oleh saudaraku ‘Isa putra Maryam. Dan ketika aku di kandungan ibuku (lalu dilahirkan) ibuku melihat sorotan cahaya yang keluar darinya hingga terlihat olehnya istana-istana di negri Syam.

“Dan aku di susui di kalangan keluarga Bani Sa’ad (keluarga Halimah As Sa’diyah) Bin Bakr. Ketika aku bersama saudaraku (sesusuan) sedang mengambala binatang ternak (domba-domba kecil) kami di belakang rumah kami, tiba-tiba 2 orang laki-laki berjubah putih mendatangiku dengan membawa bejana yang terbuat dari emas yang berisi es, lalu mereka membaringkan diriku dan membedah perutku, lalu mereka mencuci hati dan perutku dengan es tersebut hingga bersih, dan berkata yang satu kepada temannya tersebut “Timbanglah, bandingkan dia dengan 10 orang ummatnya.” Lalu mereka menimbangku dengan mereka (10 ummatku) dan aku mengungguli mereka, lalu ia berkata lagi: “Bandingkan dengan 100 ummatnya!” lalu mereka berduapun melakukannya, dan aku masih mengungguli mereka, lalu yang satu tadi berkata “Sudahlah tinggalkan ia, demi Allah walaupun kau bandingkan ia dengan seluruh ummatnya niscaya ia tetap lebih unggul.”[1]

Penulis mengutip sebuah keterangan tentang hikmah di balik pembelahan dada beliau, dari kitab Al Insan Al Kamil karya Prof DR Assayid Muhammad Al Maliky, dalam keterangannya tersebut beliau menyatakan:

Ibnu munir mengatakan: “Dibelahnya dada beliau, dan kesabarannya menghadapi peristiwa itu, serupa dengan ujian Allah kepada Nabi Ismail AS, tatkala perintah Allah datang kepada ayahnya untuk menyembelihnya. Bahkan dibelahnya dada Rasulullah SAW lebih berat lagi, karena hal itu terjadi dengan sebenarnya (Bukan mimpi), dikala beliau masih kecil, sebagai yatim piatu, dan jauh dari keluarganya.”

Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menyatakan salah satu kejadian pembelahan dada beliau. yaitu:

وَمَا أَخْرَجَ الأَمْلاَكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذَى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ

“Malaikat-malaikat itu bukanlah mengeluarkan kotoran dari hati beliau. Namun mereka menambah pada beliau kesucian diatas kesucian yang sudah ada.”

Dan masih banyak lagi komentar ulama tentang hikmah dibalik kejadian tersebut. Bila anda ingin lebih puas lagi tentang peristiwa tersebut dan hikmah di balik pembelahan dada beliau secara tuntas, anda dapat membaca kitab “Al Insan Al Kamil” karya seorang pakar Hadits dan sejarah Rasulullah abad ini, Alm Prof. DR As Sayid Muhammad Bin Alwy Al Maliky -Semoga Allah mencucurkan RahmatNya untuk beliau Amin.

[1] Abdul Malik Bin Hisyam, Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam, Arrisalah, Mesir, 1976, hal 35.

Sumber :  ” Al Asrar Al Mudhariyah “

Wafatnya Sayyidah Khadijah r.a.

‘Aamul Huzni adalah tahun kesedihan bagi Baginda Nabi Muhammad saw, karena pada tahun tersebut 2 (dua) insan mulia yang beliau sayangi telah berpulang ke pangkuan Sang Pemilik jiwa, Allah Rabbul ‘alamin. Kedua insan mulia itu adalah paman beliau tersayang Abu Thalib dan istri beliau tercinta, Sayyida Khadijah r.a.

Sayyida Khadijah, menderita sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan yang dialami oleh umat muslim saat itu. Semakin hari kondisi kesehatan beliau semakin menurun, sehingga membuat Rasulullah saw sangat sedih. Bersama dengan Sayyida Khadijah lah Rasulullah saw membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Pada saat nafas terakhirnya, meski bergelut dengan ketidakberdayaan diri, beliau menyempatkan diri untuk berpesan kepada Rasulullah saw, dengan ucapan yang samar nyaris tak terdengar “Allah menyertaimu, wahai Rasulullah! Mereka telah membuat makar untuk mencelakakanmu, namun Allah swt akan membalas makar mereka. Ia (Allah swt) akan membebaskanmu dari cengkraman mereka. Mereka tidak akan mencelakakanmu selagi engkau berada dalam perlindugan-Nya.

Ia berhenti sesaat, kemudian bertanya kepada Rasulullah saw “Apa yang Allah persiapkan untuk ku duhai Rasulullah? Apakah Ia akan menerima dan meridhoiku?” Nabi pun memejamkan mata untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang, kemudian beliau bersabda dengan lembut sambil tersenyum, “Allah telah merestuimu wahai Khadijah dan Ia berterima kasih kepadamu. Engkau telah memberikan perlindungan, pertolongan dan mengerahkan apa saja untuk membantu Rasulullah. Wahai khadijah, engkau akan mendapatkan banyak istana di surga ‘Adn yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Istana tersebut dibangun dari intan permata.”

Dalam sakit yang tidak terlalu lama tersebut, dalam usia 65 tahun, Sayyida Khadijah meninggal dan dikuburkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan Al-Hajun. Rasulullah saw sendiri yang mengurus jenazah istrinya dan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika melepaas kepergiannya adalah, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Maryam Binti Imran dan Khadijah Binti Khuwailid.”

Sumber :

1. “Washaya ash-Shalihin ‘Indal Maut” (Pesan Para Shalihin di Ambang kematian – Ali Abdul Muhsin Jabbar)

2.” Djauzatur-Rasulullah saw” (Istri Rasulullah saw – Amru Yusuf)

Wanita Calon Penghuni Surga

Dari ‘Atha bin Abi Rabah, ia berkata : “Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku : “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita calon penghuni surga.”

Aku menjawab : “Tentu saja.”

Ia berkata : “Inilah dia wanita berkulit hitam, yang pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu berkata : “Aku menderita penyakit ayan dan aku sangat khawatir jika auratku tersingkap saat penyakitku sedang kumat, maka berdo’alah engkau untukku kepada Allah (agar dia berkenan menyembuhkan penyakitku). Rasulullah saw pun bersabda : “Jika engkau mau bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau mau sembuh, aku akan berdo’a agar Allah swt menyembuhkan penyakitmu.”

Wanita tersebut berkata : “Aku lebih memilih untuk bersabar saja.”

Dia berkata lagi : “Akan tetapi, aku sangat khawatir jika auratku tersingkap saat penyakitku sedang kumat. karenanya, tolong do’akan aku agar auratku tidak tersingkap saat penyakitku kumat. Rasulullah saw pun berdo’a untuk wanita tersebut.” (Muttafaq ‘alaih)

Wanita ini adalah seorang yang mukmin lagi bertakwa. Dia ridha dengan cobaan yang selalu menimpanya dalam kehidupan yang fana ini karena mengharapkan surga sebagai imbalannya. Sesungguhnya dia beroleh keuntungan dalam jual belinya sehingga ia menjadi calon penghuni surga. Akan tetapi, ia menolak bila orang lain melihat auratnya saat ia dalam keadaan ayan. karena hal ini tidak layak bagi seorang wanita muslim yang pemalu lagi bertakwa.

Kemudian, apa yang harus kita katakan kepada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yaitu mereka yang mahir dalam seni memperlihatkan kecantikan tubuhnya, bahkan berupaya keras untuk menanggalkan kerudung malunya dan berusaha keras untuk membuka bagian-bagian yang memikat lawan jenisnya.

sumber : As’adum Raatin fil ‘Aalam (Dr. ‘Aidh Bin Abdullah Al-Qarni)

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.